Solusi Mengatasi Segala Resiko Saat Beli Rumah dengan KPR


ilustrasi, foto:urbanindo

 Kredit pemilikan rumah (KPR) merupakan salah satu solusi buat mereka yang ingin segera memiliki rumah dengan dana terbatas. Tapi hati-hati, ada kemungkinan rugi saat pakai KPR. Apapun yang kamu lakukan termasuk beli rumah di perumahan Serpong dengan KPR harus dilakukan dengan hati-hati. Prosesnya yang tidak sama dengan membeli rumah secara tunai membuat proses jual beli rumah dengan KPR ini memiliki tantangan tersendiri. Seperti jenis layanan kredit lainnya dari bank, ada syarat dan ketentuan yang mesti ditaati. Masalahnya, banyak yang tergiur oleh manfaat KPR saja. Alhasil, surat perjanjian yang disodorkan pihak bank hanya sekian detik berada di tangan. Yang dibaca hanya yang paling atas dan paling bawah, terus tanda tangan.
Selain harus memenuhi dan mengumpulkan persyaratan dengan lengkap dan benar . Padahal, poin-poin dalam surat itu mesti betul-betul dipahami biar gak rugi pakai KPR untuk beli rumah. Mungkin ada yang berpikir tidak percaya bahwa membeli rumah dengan KPR memiliki resiko atau kerugiannya. Sayangnya, jawabannya ialah “ada”. Tapi kabar baiknya adalah kerugian itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan akibat kita yang kurang teliti. Berikut ini adalah kerugian dan resiko saat membeli rumah dengan KPR dan solusinya:

Asal melunasi DP
Perlu kamu Ingat, bila kamu sudah membayar booking fee dan tanda tangan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan penjual atau developer rumah, santai saja. Tidak perlu khawatir rumah bakal diserobot orang lain. Ingat pula untuk tidak lupa membaca akad atau surat perjanjian dan kontrak KPR. Sebelum melunasi down payment (DP), baca akad atau perjanjian KPR dari bank dengan saksama. Lihat benar tidak angka suku bunga yang ditetapkan sesuai dengan brosur. Berapa penalti kalau melakukan pelunasan yang dipercepat. Berapa pula biaya keterlambatan cicilan. Santai saja, asal gak melewati tenggat pembayaran DP. Ketidakcermatan membaca akad bisa mendatangkan kerugian kelak ketika KPR sudah berjalan. Misalnya bunga ternyata lebih tinggi. Bisa berantakan rencana cicilan KPR.

Salah pilih asuransi
Lembaga keuangan atau Bank menerapkan kewajiban perlindungan asuransi buat nasabah yang mengakses layanan kreditnya, termasuk KPR. Salah memilih asuransi malah bisa merugikanmu. Oleh karena itu kamu harus lebih teliti. Asuransi tersebut antara lain kebakaran dan jiwa. Dengan demikian, rumah bakal terlindungi dari risiko kebakaran. Sedangkan cicilan rumah aman ketika nasabah meninggal saat KPR belum lunas. Masalahnya, nasabah sering hanya mengangguk dan meng iya kan saja dengan pilihan asuransi yang ditawarkan bank. Dulu sih memang bank yang memilihkan. Tapi kini beberapa bank membolehkan nasabah memilih asuransi sendiri, seperti BRI. Jadi, carilah asuransi yang perlindungannya pas dengan kebutuhan. Jika merasa tak ada risiko kebakaran atau tak membutuhkan perlindungan dari kebakaran, coba nego agar gak perlu bayar premi tersebut.
Masalah asuransi jiwa, carilah yang komplet memproteksi diri dari kecelakaan hingga penyakit kritis. Lalu, pastikan uang pertanggungannya bisa menutup plafon kredit, paling tidak dua kali lipat plafon. Misalnya kredit bank Rp 500 juta, cari asuransi jiwa dengan uang pertanggungan Rp 1 miliar. Jika kita meninggal saat masih harus mengangsur KPR, sisa utang bisa lunas dengan uang pertanggungan tersebut. Selain itu, masih ada sisa plafon yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga. Memang, preminya mungkin lebih besar, tapi saat ini ada program no claim bonus asuransi tertentu. Artinya, jika gak ada klaim, duit premi yang disetor bisa dikembalikan hingga 100 persen saat periode asuransi berakhir.

Tidak teliti cek dokumen
Syarat KPR membutuhkan beragam dokumen, dari identitas sampai salinan buku tabungan. Lalai memberikan satu lembar dokumen saja bakal menghambat proses pencairan KPR.  Dampaknya ialah makin lama pengurusan jual-beli rumah. Artinya, rumah gak bisa segera ditempati kalau sudah jadi. Yang juga penting adalah dokumen yang berkaitan dengan asuransi perumahan Serpong. Ini fatal sekali akibatnya kalau lalai. Seperti diterangkan sebelumnya, asuransi melindungi nasabah dari risiko kerugian. Tapi, kalau dokumen asuransi gak lengkap, pasti klaim uang pertanggungan bakal ribet. Bahkan mungkin bisa ditolak. Lengkapin semua dokumen asuransi biar gak galau dan di tolak. Bank dalam hal ini gak bisa berbuat apa-apa, karena hanya menjadi perantara. Yang mengurusi adalah perusahaan asuransi yang menjadi rekanan dalam KPR.

Biaya notaris kemahalan
Umumnya, notaris dalam KPR dipilihkan oleh bank. Namun bisa juga kita mengusulkan notaris sendiri. Justru itulah yang direkomendasikan. Harapannya, biaya notaris lebih transparan. Meski dipilih bank, tidak mustahil notaris yang mengurusi legalitas transaksi rumah itu nakal. Kabur mungkin tidak mungkin. Tapi menggelembungkan biaya notaris, bisa saja. Oleh karena itu kita harus memiliki kontak tersendiri notaris yang

Itulah empat kerugian atau resiko yang bisa muncul ketika memakai layanan KPR untuk memiliki rumah di perumahan Serpong, berikut solusi yang layak dipertimbangkan. Jangan sampai terlena oleh bujuk rayu developer atau petugas bank. Memang, fasilitas KPR sangat membantu. Namun kewaspadaan tetaplah nomor satu jika urusannya duit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mobil listrik buatan mahasiswa Indonesia ikut beraksi di pameran Indonesia International Motor Show (IIMS)

PT Astra Honda Motor (AHM) ikut mencicipi hasil positif di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017

Kesan Indonesia akan kembali hadir di MotoGP